Kawasan bisnis Sudirman tidak akan menjadi seperti sekarang tanpa pengembangan yang matang dan dukungan dari berbagai pihak. Berawal dari area yang terbilang kurang terawat, kini kawasan bisnis tersebut bisa menjadi jantung perekonomian.
Semuanya dimulai dari rencana induk (master plan) PT. Danayasa Arthatama Tbk., sebuah perusahaan properti dan pengembang real estate asal Indonesia di tahun 1987. Rencana ini telah mengubah area seluas 45 hektar menjadi area komersial modern.
Kini, area tersebut berubah menjadi Sudirman Central Business District (SCBD), dimana kesempatan berbisnis di seluruh negara Indonesia berpusat. Pelajari bagaimana kawasan bisnis ini lebih dekat, mulai dari sejarah, gaya hidup, dan potensial bisnisnya.
Apa yang Menggambarkan Kawasan Bisnis Sudirman?
Sebagai kawasan bisnis di Jakarta, SCBD dapat digambarkan sebagai kawasan serbaguna (mixed-use development) yang menggabungkan perumahan, komersil, budaya, dan zona hiburan. Ini membuat SCBD menjadi tempat yang cocok untuk pekerja kantoran dan pegawai swasta.
Tidak hanya itu, SCBD juga memiliki gedung-gedung pencakar langit dengan gaya arsitektur termodern (istilahnya state of the art). Ke depannya, akan semakin banyak gedung dengan desain yang unik dan eco-friendly.
Dari segi geografis, SCBD termasuk daerah Segitiga Emas Jakarta dengan Thamrin dan Kuningan. Ini membuat SCBD menjadi bagian kawasan strategis yang lebih besar, tempatnya mayoritas pencakar langit, bangunan perkantoran, dan gedung kedutaan.
Meski begitu, SCBD tetap merupakan kawasan bisnis yang paling berpengaruh, terutama karena mampu menjadi magnet untuk ekspat dan perusahaan multinasional. Ditambah lagi, SCBD menjadi rumah bagi integrasi teknologi smart city untuk melanjutkan pertumbuhannya.
Awal dari Kawasan Bisnis Sudirman
Dari area yang kurang terawat sampai menjadi business hub yang paling prestise di Jakarta, SCBD terdengar seperti cerita fiksi. Di balik kesuksesannya, ada sejarah pengembangan kawasan Sudirman.
Sejarah Pengembangan Sudirman
Situs resmi SCBD dan sebagian situs sebenarnya sudah merangkum sejarah pengembangan Sudirman:
- 1987 – PT. Danayasa Arthatama Tbk. memulai perencanaan induk untuk pengembangan SCBD selama 5 tahun.
- 1992 – Setelah disetujui oleh pemerintah kota Jakarta, konstruksi dimulai di tanah seluas 45 hektar yang sudah dipersiapkan.
- 1995 – Pembangunan gedung kantor pertama yaitu Gedung Artha Graha selesai. Gedung ini mendapatkan sertifikat green building 19 tahun kemudian.
- 1998 – Pembangunan kantor Bursa Efek Indonesia (BEI) selesai. Ini menjadikan SCBD sebagai kawasan ekonomi yang berpengaruh. Selain itu, juga ada pembangunan apartemen Kusuma Chandra yang selesai.
- 2002 – Untuk mendukung pertumbuhan SCBD sebagai kawasan bisnis, PT. Danayasa Arthatama Tbk. mengajukan penawaran umum perdana sebesar 100 juta saham di Bursa Efek Indonesia.
- 2004 sampai 2006 – Pembangunan apartemen SCBD Suite dan Capital Residence selesai.
- 2007 sampai 2011 – Pembangunan gedung kantor premium One Pacific Place and Equity Tower selesai.
- 2013 sampai 2017 – Pembangunan gedung kantor premium Grade A Pacific Century Place selesai. Gedung ini mendapatkan sertifikat green building tertinggi, yaitu LEED Platinum.
- 2017 sampai sekarang – Pembangunan berlanjut dari hotel bintang lima Discovery SCBD, hingga kawasan serbaguna kompleks District 8.
Ekspansi dari Segi Finansial dan Korporat
Selama masa pengembangannya, SCBD terus mendapat perhatian dari berbagai korporat global. Pada tahun 2019, The Jakarta Post melaporkan jika berbagai perusahaan teknologi telah membeli 55% dari lahan ruang kantor sebesar 248.000 m² di SCBD.
Selain itu, juga ada perusahaan multinasional seperti Google dan Microsoft, yang membuka kantor regional mereka di SCBD. Kantor Google saat ini di Pacific Century Place, dan kantor Microsoft saat ini di gedung Bursa Efek Indonesia.
Mengapa Kawasan Bisnis Sudirman Mampu Menarik Perusahaan Global
Jika dipikir-pikir, apa yang membuat begitu banyaknya perusahaan di Sudirman Jakarta? Yang ada di SCBD bukan cuma perusahaan lokal, namun juga perusahaan global. Bagaimana bisa? Ini beberapa alasannya:
Tempat Berkumpulnya Kantor Pusat para Korporat
Jika harus menebak dimana letak kantor pusat perusahaan Jakarta, ada kemungkinan besarnya terletak di kawasan SCBD. Sejatinya, tidak hanya Google dan Microsoft saja yang kantor pusatnya berada di kawasan tersebut.
Karena menjadi “sarang” bagi kantor pusat para korporat, SCBD dapat memberikan kesempatan untuk membangun hubungan bisnis secara global. Hal ini cukup untuk membuat SCBD begitu menarik bagi para perusahaan dan startup global.
Infrastruktur dan Konektivitas
Meski merupakan kawasan yang padat, SCBD dilengkapi dengan sistem commute dan infrastruktur transportasi yang memadai, seperti:
- Akses ke bandara dan klaster bisnis yang lebih cepat, karena posisi SCBD yang strategis.
- Banyaknya layanan transportasi, mulai dari stasiun MRT, bus Transjakarta, dan layanan ojek online (ride-hailing).
- Area pejalan kaki yang masih walkable dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia.
Adanya Ekosistem Bisnis
SCBD juga memiliki koneksi ekosistem bisnis yang strategis di antara klien dan pemegang saham. Ini membuat SCBD cocok untuk bisnis yang ingin meningkatkan posisi brand mereka, untuk menciptakan kesempatan pasar baru dan membuat customer value.
Gaya Hidup di Sekitar Kawasan Bisnis Sudirman
Dengan kemewahan dan kepraktisan yang dimilikinya, SCBD menjadi surganya bagi ekspat dan pekerja. Kawasan bisnis tersebut memiliki segalanya, mulai dari mall, rumah makan mewah, kafe, clubbing, dan berbagai pusat hiburan.
Sayangnya, kemewahan tersebut membuat gaya hidup para pekerja di SCBD cenderung lebih ke boros. Banyak pekerja yang kerap melakukan pembelian impulsif hanya untuk terlihat kaya. Banyak yang menyebut gaya hidup ini dengan istilah “gaya hidup mbak-mbak/mas-mas SCBD.”
Karena itu, SCBD sering dianggap sebagai tempat untuk gaya hidup elit, meskipun tidak semua orang yang tinggal di SCBD adalah orang kaya.
Baca Juga: Tinggal di Sudirman Jakarta: Hal yang Ekspat Perlu Ketahui
Ruang Kantor di Kawasan Bisnis Sudirman
Sebagai kawasan bisnis, terdapat banyak jenis ruang kantor di Sudirman. Namun, yang paling banyak di kawasan bisnis ini adalah bangunan kantor tradisional dan private office (kantor pribadi).
Bangunan Kantor Tradisional
Sebagian gedung pencakar langit di SCBD merupakan bangunan kantor tradisional. Dengan kemewahan yang dimiliki SCBD, bangunan kantor ini antara memiliki Grade A atau A+ (Premium). Kira-kira apa bedanya?
- Bangunan kantor Grade A merupakan bangunan lama namun masih memiliki fasilitas yang bagus dan terawat. Salah satu contohnya kantor Bursa Efek Indonesia.
- Bangunan kantor Grade A+ atau Premium merupakan bangunan baru dengan gaya arsitektur menarik dan fasilitas premium, namun biaya sewanya mahal. Salah satu contohnya yaitu Pacific Century Place.
Private Office yang Fleksibel
Selain itu, ada juga kantor fleksibel Sudirman yang sudah siap pakai dan dapat dikustomisasi. Kantor swasta di Sudirman ini dapat disewa secara jangka pendek, sehingga cocok untuk startup yang ingin membangun bisnis.
Sebagai contoh, Flow memiliki private office yang fleksibel, dengan desain kelas dunia dari AYANA, integrasi teknologi mutakhir, dan fasilitas premium. Kantor ini berada di Midplaza 1, salah satu bangunan kantor di SCBD.
Mengapa Perusahaan Tetap Memilih Kawasan Bisnis Sudirman
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan, jika alasan perusahaan memilih kawasan bisnis di Jakarta seperti CBD, karena lokasi strategis, fasilitas premium, infrastruktur yang bagus, dan tempat berkumpulnya kantor pusat korporat multinasional.
Bisnis tentunya akan memilih lokasi kantor baru berdasarkan beberapa kriteria, dan sepertinya semua kriteria itu ada di SCBD. Jadi, sudah dapat dipastikan jika Sudirman memang jantung dari perekonomian Jakarta.
Jika Anda ingin membuka kantor di kawasan bisnis Sudirman, Flow dapat menjadi solusi yang tepat. Lokasi di SCBD, desain kelas dunia, dan fasilitas lengkap. Hubungi Flow untuk tur di private office baru Anda sekarang!